Thursday, June 28, 2012

Manisnya Pengorbanan dalam Janji

Ketika Japan Airline mulai memperlambat jalannya untuk kemudian berhenti di ujung landasan, baru kusadari bahwa aku sebetulnya adalah seorang asing di Negeri ini. Aku datang kemari karena aku mendapat beasiswa untuk studi program S2 di Universitas Kumamoto. Sambil memutar-mutar kepalaku memandang keliling kuangkat koporku, lalu kujinjing ke luar Fukuoka Airport. Pemandu dari Universitas menyambut kemudian mengantarkan ku dan teman-teman dari Indonesia menuju asrama di kota Kumamoto. Sesaat dalam perjalanan menuju asrama terpikir dibenakku,“Subhanalloh, sungguh tidak aku kira jika apa yang aku inginkan selama ini terkabullah sudah”. Rasa haruku tak terbendung hingga kedua mataku tampak berkaca-kaca sambil sesekali melihat keramaian sekitar.
Selama enam bulan lamanya aku khusus mendalami bahasa Jepang, sekarang lancar sudah. Dalam keheningan malam yang dingin, aku terbangun dari tidurku untuk melakukan sholat malam yang seperti biasa aku lakukan sejak aku kuliah di Indonesia. Aku ungkapkan segala rasa syukurku kepada Alloh yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menuntut ilmu di Jepang yang selama ini aku inginkan. Tak luput rasa rindu yang tak terbendung akan bayang ayah dan ibuku serta adik perempuanku di Indonesia.
 “Ya allah, lindungilah mereka orang-orang yang kusayang, berikanlah kerahmatanMu untuk mereka, dan bimbinglah mereka ke jalan lurusMu”, sambil sesekali mengusap air mataku.
 Hari berlalu kulewati hingga setahun sudah kuliahku berlangsung. Kini Jepang seolah menjadi tempat singgah ternyaman buatku. Kehidupan sosial yang cukup baik serta pola hidup yang teratur, disiplin dan sehat. Sesekali aku berkomunikasi dengan adikku melalui jejaring sosial untuk melepaskan sejenak rasa rinduku terhadap keluarga.
 “Kapan mas kembali ke Indonesia?, kami sudah kangen dengan mas.” Tanya adik perempuanku.
 “Insya Allah tahun depan mas sudah kembali ke Indonesia, doakan saja ya dik agar kuliah mas disini bisa lancar dan selesai dengan baik”. Jawabku sembari menyeruput minuman yang ada disamping laptop.
“Iya mas, aku doakan selalu apa yang terbaik untuk mas, jaga baik-baik diri mas disana ya, jangan lupa sholat”. Sahut adikku
“Iya dik, trimakasih ya atas doanya, salam untuk ibu dan ayah di rumah ya. Belajar yang rajin ya, karena tahun depan kamu sudah menyandang gelar S1, ya sudah dik mas offline dulu ya, kapan hari kita chatting lagi, assalamu’alaikum”.
“wa’alaikumsalam”, jawab adikku.
Seiring berjalannya waktu, kuliah S2 ku semakin cepat berlalu, beberapa bulan lagi aku akan menyandang gelar Master jika Thesisku berjalan lancar. Tak kuduga, perusahaan elektronik milik pemerintah Jepang memberi penawaran dengan mengajakku bergabung di perusahaan mereka karena aku dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan perusahaannya. Semalaman aku pikirkan matang-matang hingga akhirnya aku menerima tawaran dari perusahaan tersebut. Waktu penantian usai sudah, kini aku telah diwisuda sebagai seorang Master Engineering. Tak hanya itu, kerjasama selama 5 bulan yang terjalin dengan perusahaan milik pemerintah Jepang pun berjalan baik, hingga aku dipercaya menjabat kepala bidang riset dan pengembangan, sungguh rasa bahagia yang tak dapat aku ungkapkan. Aku jalani posisiku sebagai seorang pemimpin yang baik. Keberhasilan karirku kian gemilang, hingga tak terasa sudah bekerja selama satu tahun di perusahaan ini. Seusai menunaikan sholat isya, aku sempatkan untuk berbincang dengan adikku lewat jejaring sosial karena sudah lama dia menantikan kabarku setelah kelulusanku, namun aku selalu sibuk dengan pekerjaanku.
“Assalamu’alaikum mas?”, sapa adikku dengan cepat karena sudah hampir satu tahun tidak berkomunikasi.
 “wa’alaikumsalam dik”, sahutku.
 “Apa kabar mas disana?”
“ Oh ya, mas kapan pulang? Bukannya ini sudah 3 tahun lebih mas tinggal di sana. Padahal mas sudah bilang kalau mas akan pulang setelah studinya selesai selama 2 tahun.” Tanya adikku dengan bertubi-tubi.
 Hingga aku sedikit kebingungan untuk menjawabnya,”ee.. Alhamdulillah mas disini baik-baik saja kok dek, apa kabar adik disana serta ayah dan ibu?” sambil mengalihkan pembicaraan tentang kabar kepulangan ke Indonesia.
“Alhamdulillah, adik juga baik-baik saja disini, ibu dan ayah juga baik-baik saja kok mas. Gimana, mas kapan pulang? Aku, ayah dan ibu sudah kangen sekali dengan mas.” Celoteh adikku sambil memunculkan emoticon crying dan smile J menggambarkan rasa haru.
Aku pun bingungan mau beralasan apalagi, karena aku terlanjur menerima tawaran kerja di perusahaan milik pemerintah Jepang ini. Lalu aku coba menjawab dengan santai.
 “Begini lho dek, mas dulu memang sudah janji sama adek kalau selesai studi mas akan pulang ke Indonesia, tapi menjelang akhir studi, mas ditawari oleh pemeritah Jepang untuk bekerjasama di perusahaannya, mas juga sudah diangkat jadi kepala bidang riset dan pengembangan lho dek. Doakan mas ya, agar mas bisa sukses disini. Oh ya, kamu mau melanjutkan S2 disini juga ta dik, kalau mau nanti mas urus registrasinya, gimana? Enak lho dek kuliah disini, untuk tempat tinggal jangan khawatir adik tinggal saja satu apartemen dengan mas.” Jawabku dengan nada enteng.
“Mengapa mas terima tawaran itu tanpa sepengetahuanku termasuk ayah dan ibu? Dan mengapa mas mengingkari janji yang sudah kita buat bersama bahwa mas akan kembali ke Indonesia setelah studinya selesai!!”. Bentak adikku sambil menampilkan emoticon crying dan sad L menggambarkan perasaan kecewa terhadapku. Hatiku tergentak melihat jawaban dari adikku yang begitu menyudutkan, dan akupun terdiam sambil mengingat masa dimana aku dan adikku mengikat janji sebelum aku berangkat. Saat aku termenung dalam lamunan, adikku bekali-kali mengirim kembali ungkapan kekecewaannya kepadaku yang mengagetkan kembali lamunanku.
 “Tidak mas, aku sama sekali tidak tergiur dengan apa yang mas katakan tentang Negera Jepang yang mas banggakan sekarang hingga mas enggan kembali ke negeri mas sendiri”
“Ingat mas, baik atau buruk Negara kita itu tetap Negara kita yang perlu kita bangun dan banggakan, mas dulu juga berjanji kalau berniat membangun perusahaan di Indonesia setelah mendapat bekal studi S2 di Jepang, namun apa yang sekarang mas perbuat itu tidak lebih dari seorang yang lupa dengan bangsanya !.”
“Trimakasih mas atas tawarannya, aku lebih senang kuliah di sini dan sukses karena negaraku sendiri. Aku akan merasa lebih baik jika aku bisa menjadi orang sukses karena negaraku bukan karena negara orang lain yang menyukseskanku. Di sini aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mas, dan mendukung sepenuhnya keputusan mas walau mengecewakan.” Ungkap adikku yang semakin membuatku merasa bersalah.
Dalam kegelapan malam, aku mengingat perkataan adikku tadi siang. Semakin ku ingat  aku semakin merasa bersalah. Aku bersimpuh di hadapan Allah.
 “Ya Allah, ampunilah hambamu ini yang tidak mensyukuri atas anugerahmu. Ampunilah hambamu yang mengabaikan janji yang telah hamba buat sendiri, dan ampunilah hamba yang sudah membuat adik hamba kecewa dengan keputusan hamba yang terlalu egois.” Rintihku dengan segenap rasa sesal yang memuncak.
Setelah aku pertimbangkan dengan seksama, aku memutuskan untuk segera kembali ke Indonesia. Aku mencari orang yang tepat untuk menggantikan posisiku sebagai kepala bidang sebagai bentuk rasa tanggung jawabku kepada pemilik perusahaan tempat dimana aku bekerja. Semua barang yang ada di apartemen, aku bereskan sudah. Aku memesan tiket pesawat untuk keberangkatan besok pagi ke Indonesia. Hari yang kutunggu telah tiba, aku duduk sesuai dengan nomor kursi yang tertera pada tiket, hingga beberapa menit kemudian suara bising mesin pesawat mengawali perjalanan pulang ke Indonesia.
Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, aku teruskan perjalananku ke rumah. Taksi yang kunaiki tepat berhenti di depan rumah. Adikku yang sedang menjemur cucian memandangi taksi kemudian langsung menghampiriku seraya berlinangan air mata seakan tidak percaya akan kepulanganku ke Indonesia secara tiba-tiba. Tanpa banyak bicara, aku pandang wajah adikku dengan jilbab kuningnya yang terlihat senang akan kedatanganku lalu aku meminta maaf kepadanya, aku menyesali apa yang aku perbuat selama ini. Adikku hanya bisa mengangguk menandakan bahwa dia tidak mempersoalkan hal itu. Kami berdua pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui ayah dan ibu. Aku peluk dan cium kedua tangan ayah dan ibuku dengan erat karena itu hal yang sudah tidak aku rasakan selama aku tinggal di Jepang. Hari itu kami berbincang-bincang hingga larut malam, menceritakan segala pengalaman yang pernah ku alami selama aku tinggal di Jepang.
Beberapa bulan aku tinggal di Indonesia, aku sudah membuka perusahaan kecil-kecilan dengan menerapkan sistem kerja yang sudah pernah aku jalankan di Jepang. Ternyata semua itu tidak semudah yang aku bayangkan. Karyawan yang kurekrut tidak bisa diperlakukan sama dengan karyawan di Jepang. Aku sempat depresi berat dengan keadaanku sekarang karena begitu susahnya mengatur karyawan di perusahaanku ini. Terlambat, mengeluh, bekerja setengah hati seakan sudah menjadi budaya karyawan di sini hingga perusahaanku ini bangkrut dan tutup.
“Mas, janganlah mas berputus asa. Ini sebuah tantangan untuk mas sebagai bentuk pengabdian mas kepada masyarakat, seharusnya mas lebih siap menghadapi persoalan seperti ini karena mas sudah berpengalaman mengatur karyawan selama mas bekerja di Jepang”. Nasihat darinya untukku
“Don’t ever try to be the best, just do the best as far as you can do!!”.
“Lihatlah mas, adikmu ini yang hanya lulusan dari Institut negeri di Indonesia, kini memiliki beberapa cabang percetakan yang sudah menyebar di pulau Jawa. Dulu aku juga jatuh bangun ketika membangun perusahaan ini sendirian karena aku sebelumnya tidak mempunyai skill untuk membangun perusahaan ini. Namun aku selalu berdoa kepada Alloh dan berusaha melakukan yang terbaik, hingga kini perusahaan yang aku dirikan berpengaruh untuk kemajuan bangsa kita ini. Aku yakin, mas bisa melakukan yang lebih baik dariku dengan bekal ilmu yang jauh lebih banyak mas miliki.” Papar adikku sambil tersenyum J seakan memberiku semangat.
Mendengar semua motivasi dan nasihat dari adikku, akupun bangkit dari lamunanku yang tak berguna. Dari titik nol lagi aku dirikan perusahaan, dengan sabar dan menerapkan segala pengalaman yang pernah aku alami kian lama perusahaan yang aku bangun semakin berkembang. Hingga 5 tahun kemudian perusahaan berbasis teknologi ini merambah di seluruh wilayah Indonesia, bahkan aku menjalin kerjasama dengan perusahaan yang pernah aku tempati di Jepang. Sungguh, semangat kerja keras yang luar biasa dalam membangun suatu usaha membawaku dalam kesuksesan yang bermakna. Dan suatu kehormatan bagiku dapat berperan serta membangun ethos dan karakter bangsa.
Di tengah-tengah kesuksesanku teringat akan perkataan adikku yang sangat berharga bagiku “Ingat mas, Baik atau buruk Negara kita itu tetap Negara asli kita dan kita harus bangga, Aku lebih bangga jika aku bisa menjadi orang sukses karena negaraku bukan karena negara orang lain yang menyukseskanku”. Aku pun tersenyum, dan memandangi wajah adikku yang mengintipku dari luar jendela kamarku. Dia pun membalas dengan senyum kebahagiaan J

0 komentar:

Post a Comment