Ketika Japan Airline
mulai memperlambat jalannya untuk kemudian berhenti di ujung landasan,
baru kusadari bahwa aku sebetulnya adalah seorang asing di Negeri ini.
Aku datang kemari karena aku mendapat beasiswa untuk studi program S2 di
Universitas Kumamoto. Sambil memutar-mutar kepalaku memandang keliling
kuangkat koporku, lalu kujinjing ke luar Fukuoka Airport.
Pemandu dari Universitas menyambut kemudian mengantarkan ku dan
teman-teman dari Indonesia menuju asrama di kota Kumamoto. Sesaat dalam
perjalanan menuju asrama terpikir dibenakku,“Subhanalloh, sungguh tidak aku kira jika apa yang aku inginkan selama ini terkabullah sudah”. Rasa haruku tak terbendung hingga kedua mataku tampak berkaca-kaca sambil sesekali melihat keramaian sekitar.
Selama
enam bulan lamanya aku khusus mendalami bahasa Jepang, sekarang lancar
sudah. Dalam keheningan malam yang dingin, aku terbangun dari tidurku
untuk melakukan sholat malam yang seperti biasa aku lakukan sejak aku
kuliah di Indonesia. Aku ungkapkan segala rasa syukurku kepada Alloh
yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menuntut ilmu di Jepang
yang selama ini aku inginkan. Tak luput rasa rindu yang tak terbendung
akan bayang ayah dan ibuku serta adik perempuanku di Indonesia.
“Ya
allah, lindungilah mereka orang-orang yang kusayang, berikanlah
kerahmatanMu untuk mereka, dan bimbinglah mereka ke jalan lurusMu”, sambil sesekali mengusap air mataku.
Hari
berlalu kulewati hingga setahun sudah kuliahku berlangsung. Kini Jepang
seolah menjadi tempat singgah ternyaman buatku. Kehidupan sosial yang
cukup baik serta pola hidup yang teratur, disiplin dan sehat. Sesekali
aku berkomunikasi dengan adikku melalui jejaring sosial untuk melepaskan
sejenak rasa rinduku terhadap keluarga.
“Kapan mas kembali ke Indonesia?, kami sudah kangen dengan mas.” Tanya adik perempuanku.
“Insya
Allah tahun depan mas sudah kembali ke Indonesia, doakan saja ya dik
agar kuliah mas disini bisa lancar dan selesai dengan baik”. Jawabku sembari menyeruput minuman yang ada disamping laptop.
“Iya mas, aku doakan selalu apa yang terbaik untuk mas, jaga baik-baik diri mas disana ya, jangan lupa sholat”. Sahut adikku
“Iya
dik, trimakasih ya atas doanya, salam untuk ibu dan ayah di rumah ya.
Belajar yang rajin ya, karena tahun depan kamu sudah menyandang gelar
S1, ya sudah dik mas offline dulu ya, kapan hari kita chatting lagi,
assalamu’alaikum”.
“wa’alaikumsalam”, jawab adikku.
Seiring
berjalannya waktu, kuliah S2 ku semakin cepat berlalu, beberapa bulan
lagi aku akan menyandang gelar Master jika Thesisku berjalan lancar. Tak
kuduga, perusahaan elektronik milik pemerintah Jepang memberi penawaran
dengan mengajakku bergabung di perusahaan mereka karena aku dinilai
memiliki potensi untuk mengembangkan perusahaannya. Semalaman aku
pikirkan matang-matang hingga akhirnya aku menerima tawaran dari
perusahaan tersebut. Waktu penantian usai sudah, kini aku telah diwisuda
sebagai seorang Master Engineering.
Tak hanya itu, kerjasama selama 5 bulan yang terjalin dengan perusahaan
milik pemerintah Jepang pun berjalan baik, hingga aku dipercaya
menjabat kepala bidang riset dan pengembangan, sungguh rasa bahagia yang
tak dapat aku ungkapkan. Aku jalani posisiku sebagai seorang pemimpin
yang baik. Keberhasilan karirku kian gemilang, hingga tak terasa sudah
bekerja selama satu tahun di perusahaan ini. Seusai menunaikan sholat
isya, aku sempatkan untuk berbincang dengan adikku lewat jejaring sosial
karena sudah lama dia menantikan kabarku setelah kelulusanku, namun aku
selalu sibuk dengan pekerjaanku.
“Assalamu’alaikum mas?”, sapa adikku dengan cepat karena sudah hampir satu tahun tidak berkomunikasi.
“wa’alaikumsalam dik”, sahutku.
“Apa kabar mas disana?”
“
Oh ya, mas kapan pulang? Bukannya ini sudah 3 tahun lebih mas tinggal
di sana. Padahal mas sudah bilang kalau mas akan pulang setelah studinya
selesai selama 2 tahun.” Tanya adikku dengan bertubi-tubi.
Hingga aku sedikit kebingungan untuk menjawabnya,”ee.. Alhamdulillah mas disini baik-baik saja kok dek, apa kabar adik disana serta ayah dan ibu?” sambil mengalihkan pembicaraan tentang kabar kepulangan ke Indonesia.
“Alhamdulillah,
adik juga baik-baik saja disini, ibu dan ayah juga baik-baik saja kok
mas. Gimana, mas kapan pulang? Aku, ayah dan ibu sudah kangen sekali
dengan mas.” Celoteh adikku sambil memunculkan emoticon crying dan smile J menggambarkan rasa haru.
Aku
pun bingungan mau beralasan apalagi, karena aku terlanjur menerima
tawaran kerja di perusahaan milik pemerintah Jepang ini. Lalu aku coba
menjawab dengan santai.
“Begini
lho dek, mas dulu memang sudah janji sama adek kalau selesai studi mas
akan pulang ke Indonesia, tapi menjelang akhir studi, mas ditawari oleh
pemeritah Jepang untuk bekerjasama di perusahaannya, mas juga sudah
diangkat jadi kepala bidang riset dan pengembangan lho dek. Doakan mas
ya, agar mas bisa sukses disini. Oh ya, kamu mau melanjutkan S2 disini
juga ta dik, kalau mau nanti mas urus registrasinya, gimana? Enak lho
dek kuliah disini, untuk tempat tinggal jangan khawatir adik tinggal
saja satu apartemen dengan mas.” Jawabku dengan nada enteng.
“Mengapa
mas terima tawaran itu tanpa sepengetahuanku termasuk ayah dan ibu? Dan
mengapa mas mengingkari janji yang sudah kita buat bersama bahwa mas
akan kembali ke Indonesia setelah studinya selesai!!”. Bentak adikku sambil menampilkan emoticon crying dan sad L
menggambarkan perasaan kecewa terhadapku. Hatiku tergentak melihat
jawaban dari adikku yang begitu menyudutkan, dan akupun terdiam sambil
mengingat masa dimana aku dan adikku mengikat janji sebelum aku
berangkat. Saat aku termenung dalam lamunan, adikku bekali-kali mengirim
kembali ungkapan kekecewaannya kepadaku yang mengagetkan kembali
lamunanku.
“Tidak
mas, aku sama sekali tidak tergiur dengan apa yang mas katakan tentang
Negera Jepang yang mas banggakan sekarang hingga mas enggan kembali ke
negeri mas sendiri”
“Ingat
mas, baik atau buruk Negara kita itu tetap Negara kita yang perlu kita
bangun dan banggakan, mas dulu juga berjanji kalau berniat membangun
perusahaan di Indonesia setelah mendapat bekal studi S2 di Jepang, namun apa yang sekarang mas perbuat itu tidak lebih dari seorang yang lupa dengan bangsanya !.”
“Trimakasih
mas atas tawarannya, aku lebih senang kuliah di sini dan sukses karena
negaraku sendiri. Aku akan merasa lebih baik jika aku bisa menjadi orang
sukses karena negaraku bukan karena negara orang lain yang
menyukseskanku. Di sini aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mas,
dan mendukung sepenuhnya keputusan mas walau mengecewakan.” Ungkap adikku yang semakin membuatku merasa bersalah.
Dalam kegelapan malam, aku mengingat perkataan adikku tadi siang. Semakin ku ingat aku semakin merasa bersalah. Aku bersimpuh di hadapan Allah.
“Ya
Allah, ampunilah hambamu ini yang tidak mensyukuri atas anugerahmu.
Ampunilah hambamu yang mengabaikan janji yang telah hamba buat sendiri,
dan ampunilah hamba yang sudah membuat adik hamba kecewa dengan
keputusan hamba yang terlalu egois.” Rintihku dengan segenap rasa sesal yang memuncak.
Setelah
aku pertimbangkan dengan seksama, aku memutuskan untuk segera kembali
ke Indonesia. Aku mencari orang yang tepat untuk menggantikan posisiku
sebagai kepala bidang sebagai bentuk rasa tanggung jawabku kepada
pemilik perusahaan tempat dimana aku bekerja. Semua barang yang ada di
apartemen, aku bereskan sudah. Aku memesan tiket pesawat untuk
keberangkatan besok pagi ke Indonesia. Hari yang kutunggu telah tiba,
aku duduk sesuai dengan nomor kursi yang tertera pada tiket, hingga
beberapa menit kemudian suara bising mesin pesawat mengawali perjalanan
pulang ke Indonesia.
Sesampainya
di Bandara Soekarno-Hatta, aku teruskan perjalananku ke rumah. Taksi
yang kunaiki tepat berhenti di depan rumah. Adikku yang sedang menjemur
cucian memandangi taksi kemudian langsung menghampiriku seraya
berlinangan air mata seakan tidak percaya akan kepulanganku ke Indonesia
secara tiba-tiba. Tanpa banyak bicara, aku pandang wajah adikku dengan
jilbab kuningnya yang terlihat senang akan kedatanganku lalu aku meminta
maaf kepadanya, aku menyesali apa yang aku perbuat selama ini. Adikku
hanya bisa mengangguk menandakan bahwa dia tidak mempersoalkan hal itu.
Kami berdua pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui ayah dan
ibu. Aku peluk dan cium kedua tangan ayah dan ibuku dengan erat karena
itu hal yang sudah tidak aku rasakan selama aku tinggal di Jepang. Hari
itu kami berbincang-bincang hingga larut malam, menceritakan segala
pengalaman yang pernah ku alami selama aku tinggal di Jepang.
Beberapa
bulan aku tinggal di Indonesia, aku sudah membuka perusahaan
kecil-kecilan dengan menerapkan sistem kerja yang sudah pernah aku
jalankan di Jepang. Ternyata semua itu tidak semudah yang aku bayangkan.
Karyawan yang kurekrut tidak bisa diperlakukan sama dengan karyawan di
Jepang. Aku sempat depresi berat dengan keadaanku sekarang karena begitu
susahnya mengatur karyawan di perusahaanku ini. Terlambat, mengeluh,
bekerja setengah hati seakan sudah menjadi budaya karyawan di sini
hingga perusahaanku ini bangkrut dan tutup.
“Mas,
janganlah mas berputus asa. Ini sebuah tantangan untuk mas sebagai
bentuk pengabdian mas kepada masyarakat, seharusnya mas lebih siap
menghadapi persoalan seperti ini karena mas sudah berpengalaman mengatur
karyawan selama mas bekerja di Jepang”. Nasihat darinya untukku
“Don’t ever try to be the best, just do the best as far as you can do!!”.
“Lihatlah
mas, adikmu ini yang hanya lulusan dari Institut negeri di Indonesia,
kini memiliki beberapa cabang percetakan yang sudah menyebar di pulau
Jawa. Dulu aku juga jatuh bangun ketika membangun perusahaan ini
sendirian karena aku sebelumnya tidak mempunyai skill untuk membangun
perusahaan ini. Namun aku selalu berdoa kepada Alloh dan berusaha
melakukan yang terbaik, hingga kini perusahaan yang aku dirikan
berpengaruh untuk kemajuan bangsa kita ini. Aku yakin, mas bisa
melakukan yang lebih baik dariku dengan bekal ilmu yang jauh lebih
banyak mas miliki.” Papar adikku sambil tersenyum J seakan memberiku semangat.
Mendengar
semua motivasi dan nasihat dari adikku, akupun bangkit dari lamunanku
yang tak berguna. Dari titik nol lagi aku dirikan perusahaan, dengan
sabar dan menerapkan segala pengalaman yang pernah aku alami kian lama
perusahaan yang aku bangun semakin berkembang. Hingga 5 tahun kemudian
perusahaan berbasis teknologi ini merambah di seluruh wilayah Indonesia,
bahkan aku menjalin kerjasama dengan perusahaan yang pernah aku tempati
di Jepang. Sungguh, semangat kerja keras yang luar biasa dalam
membangun suatu usaha membawaku dalam kesuksesan yang bermakna. Dan
suatu kehormatan bagiku dapat berperan serta membangun ethos dan karakter bangsa.
Di tengah-tengah kesuksesanku teringat akan perkataan adikku yang sangat berharga bagiku “Ingat mas, Baik
atau buruk Negara kita itu tetap Negara asli kita dan kita harus
bangga, Aku lebih bangga jika aku bisa menjadi orang sukses karena
negaraku bukan karena negara orang lain yang menyukseskanku”. Aku
pun tersenyum, dan memandangi wajah adikku yang mengintipku dari luar
jendela kamarku. Dia pun membalas dengan senyum kebahagiaan J

0 komentar:
Post a Comment